Kamis, 18 Juli 2013

Salat Tasbih



Salat Tasbih
ketika salat malam bersama, misalnya mencari malam Laitaul Qadar di bulan Ramadlan, imam masjid mengajak salat Tasbih berjamaah. Apakan salat Tasbih memiliki dasar? Jamaah Mushalla Da'watul Anshor, Sby

Jawaban:
Benar, bahwa salat Tasbih yang sering dilakukan sebagai salat sunah di malam hari berdasarkan sebuah hadis, dimana Rasulullah mengajarkan salat tersebut kepada pamannya Abbas bin Abdul Muthallib:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرِ بْنِ الْحَكَمِ النَّيْسَابُورِىُّ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ أَبَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ « يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلاَ أُعْطِيكَ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ
أَحْبُوكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ عَشْرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّىَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِى أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِى سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِى كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى عُمُرِكَ مَرَّةً » (أبو داود ، والنسائى ، وابن ماجه ، وابن خزيمة ، والطبرانى ، والحاكم ، والبيهقى عن ابن عباس)
أخرجه أبو داود (2/29 ، رقم 1297) ، وابن ماجه (1/443 ، رقم 1387) ، وابن خزيمة (2/223 ، رقم 1216) ، والطبرانى (11/243 ، رقم 11622) ، والحاكم (1/463 ، رقم 1192) ، والبيهقى (3/51 ، رقم 4695) .

 (HR Abu Dawud No 1297, Ibnu Majah No 1387, Ibnu Khuzaimah No 1216, Thabrani No 11622, al-Hakim No 1192 dan al-Baihaqi No 4690)
Terkait dengan tuduhan bahwa hadis tentang salat Tasbih adalah hadis palsu, maka dibantah oleh banyak ulama ahli hadis. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Jauzi telah berbuat keburukan dengan menilai hadis salat Tasbih ini sebagai hadis palsu”. Alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Jauzi karena ada perawi bernama Musa bin Abdul Aziz yang dituduh majhul (tidak diketahui). Padahal Musa bin Abdul Aziz tersebut dinilai oleh Ibnu Ma'in dan an-Nasai sebagai perawi terpercaya. Bahkan al-Bukhari mencantumkannya dalam kitabnya “al-Qira'ah Khalfa al-Imam”. Imam Muslim berkata: “Tidak ada riwayat tentang salat Tasbih yang lebih baik daripada riwayat tersebut”
az-Zarkasyi berkata: “Tidak diragukan lagi kesalahan Ibnu Jauzi yang menilai hadis ini sebagai hadis palsu. Sebab hadis tersebut memiliki 3 jalur. Jalur pertama adalah dari Ibnu Abbas, ini adalah sahih bukan dlaif apalagi palsu. Dan 2 jalur riwayat lainnya adalah dlaif, namun bukan hadis palsu” (Aun al-Ma'bud Syarah Sunan Abi Dawud 3/247)
Sementara salat sunah berjamaah pernah dibahas di rubrik ini, yaitu Ibnu Abbas yang bermakmum salat sunah kepada Rasulullah (HR Bukhari 4/163) dan Anas bermakmum salat sunah kepada Rasulullah Saw (HR Muslim No 1533)
dengan demikian, amaliyah salat Tasbih berjamaah sebagai salat sunah mutlak, memiliki landasan dalil yang dibenarkan dalam Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar