Kamis, 31 Januari 2013

Menghadiahkan Bacaan Dzikir / Tahlil Untuk Ahli Kubur


Menghadiahkan Bacaan Dzikir Untuk Ahli Kubur
M Ma’ruf Khozin[1]

Untuk membahas masalah ini secara lebih mendalam, akan kami ulas terlebih dahulu pokok masalah uatamanya dari berbagai dalil dan pandangan ulama, yaitu mengenai mengirim pahala bacaan al-Quran kepada orang yang telah meninggal.
Masalah ini merupakan ranah khilafiyah para ulama sejak dahulu, oleh karenanya al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi mengawali bab tentang masalah ini dengan redaksi sebagai berikut:
اُخْتُلِفَ فِي وُصُوْلِ ثَوَابِ الْقِرَاءَةِ لِلْمَيِّتِ فَجُمْهُوْرُ السَّلَفِ وَاْلأَئِمَّةِ الثَّلاَثَةِ عَلَى الْوُصُوْلِ (شرح الصدور بشرح حال الموتى والقبور للحافظ جلال الدين السيوطي 1 / 302)
"Telah terjadi perbedaan diantara para Ulama mengenai sampainya pahala bacaan al-Quran kepada orang yang telah meninggal. Menurut mayoritas ulama Salaf dan ulama tiga Madzhab (Hanafi, Maliki dan Hanbali) menyatakan bisa sampai kepada orang yang telah wafat" (Syarh al-Shudur I/203)
Pendapat mayoritas ulama ini didukung oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqtidla' al-Shirat al-Mustaqim II/261:
اِنَّ ثَوَابَ الْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ مِنَ الصَّلاَةِ وَالْقِرَاءَةِ وَغَيْرِهِمَا يَصِلُ إِلَى الْمَيِّتِ كَمَا يَصِلُ إِلَيْهِ ثَوَابُ الْعِبَادَاتِ الْمَالِيَّةِ بِاْلإِجْمَاعِ وَهَذَا مَذْهَبُ أَبِي حَنِيْفَةَ وَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِمَا وَقَوْلُ طَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِي وَمَالِكٍ وَهُوَ الصَّوَابُ ِلأَدِلَّةٍ كَثِيْرَةٍ ذَكَرْنَاهَا فِي غَيْرِ هَذَا الْمَوْضِعِ (اقتضاء الصراط المستقيم لابن تيمية 2 / 261)
"Sesungguhnya pahala ibadah secara fisik seperti salat, membaca al-Quran dan lainnya, bisa sampai kepada mayit sebagaimana ibadah yang bersifat harta secara Ijma'. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad, kelompok ulama Syafi'iyah dan Malikiyah. Ini adalah yang benar berdasarkan dalil-dalil yang banyak, yang kami jelaskan di lain kitab ini (dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu' al-Fatawa 24/306-313)."
Banyak pihak yang kemudian menghantam warga NU yang mayoritas mengikuti madzhab Syafi'i, bahwa menurut mereka Imam Syafi'i berpendapat tidak dapat sampainya bacaan yang dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal. Mereka umumnya mengutip pernyataan dari Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.
Karena mereka di luar pengikut Imam Syafi'i, maka sudah jelas mereka tidak memahaminya secara mendalam. Disini kami paparkan terlebih dahulu pernyataan dari para ulama Syafi'iyah terkait anjuran membaca al-Quran di kuburan, yang sudah pasti orang yang meninggal dapat merasakan manfaat dari bacaan tersebut, kemudian kami paparkan pula kesepakatan para ulama dalam masalah mengirimkan pahala ini. Dalil membaca al-Quran di kuburan adalah:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)
"Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembukaan al-Quran (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya" (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Main 4/449)[2]
Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi penilaian pada hadis tersebut:
فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (فتح الباري لابن حجر 3 / 184)
"HR al-Thabrani dengan sanad yang hasan" (Fath al-Bari III/184)
Imam al-Nawawi mengutip kesepakatan ulama Syafi'iyah tentang membaca al-Quran di kuburan:
وَيُسْتَحَبُّ (لِلزَّائِرِ) اَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْقُرْآنِ مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوَ لَهُمْ عَقِبَهَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ (المجموع شرح المهذب للشيخ النووي 5 / 311)
"Dan dianjurkan bagi peziarah untuk membaca al-Quran sesuai kemampuannya dan mendoakan ahli kubur setelah membaca al-Quran. Hal ini dijelaskan oleh al-Syafi'i dan disepakati oleh ulama Syafi'iyah" (al-Nawawi, al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab V/311)
Di bagian lain Imam Nawawi juga berkata:
قَالَ الشَّافِعِي وَاْلأَصْحَابُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَؤُوْا عِنْدَهُ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ قَالُوْا فَإِنْ خَتَمُوْا الْقُرْآنَ كُلَّهُ كَانَ حَسَنًا  (الأذكار النووية 1 / 162 والمجموع للشيخ النووي 5 / 294)
"Imam Syafi'i dan ulama Syafi'iyah berkata: Disunahkan membaca sebagian dari al-Quran di dekat kuburnya. Mereka berkata: Jika mereka mengkhatamkan al-Quran keseluruhan, maka hal itu dinilai bagus" (al-Adzkar I/162 dan al-Majmu' V/294)
Murid Imam Syafi'i yang juga kodifikator Qaul Qadim[3], al-Za'farani, berkata:
وَقَالَ الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحُ الزَّعْفَرَانِي سَأَلْتُ الشَّافِعِيَّ عَنِ اْلقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ لاَ بَأْسَ بِهَا (الروح لابن القيم 1 / 11)
"Al-Za'farani (perawi Imam Syafii dalam Qaul Qadim) bertanya kepada Imam Syafii tentang membaca al-Quran di kuburan. Beliau menjawab: Tidak apa-apa" (al-Ruh, Ibnu Qoyyim, I/11)
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentari riwayat al-Za'farani dari Imam Syafi'i ini:
وَهَذَا نَصٌّ غَرِيْبٌ عَنِ الشَّافِعِي وَالزَّعْفَرَانِي مِنْ رُوَاةِ الْقَدِيْمِ وَهُوَ ثِقَةٌ وَإِذَا لَمْ يَرِدْ فِي الْجَدِيْدِ مَا يُخَالِفُ مَنْصُوْصَ الْقَدِيْمِ فَهُوَ مَعْمُوْلٌ بِهِ (الإمتاع بالأربعين المتباينة السماع للحافظ أحمد بن علي بن محمد بن علي بن حجر العسقلاني 1 / 85)
"Ini penjelasan yang asing dari al-Syafi'i. Al-Za'farani adalah perawi Qaul Qadim, ia orang terpercaya. Dan jika dalam Qaul Jadid tidak ada yang bertentangan dengan penjelasan Qaul Qadim, maka Qaul Qadim inilah yang diamalkan (yaitu boleh membaca al-Quran di kuburan)" (al-Imta', al-Hafidz Ibnu Hajar, I/11)
Ibnu Hajar mengulas lebih kongkrit:
ِلأَنَّ الْقُرْآنَ أَشْرَفُ الذِّكْرِ وَالذِّكْرُ يَحْتَمِلُ بِهِ بَرَكَةٌ لِلْمَكَانِ الَّذِي يَقَعُ فِيْهِ وَتَعُمُّ تِلْكَ الْبَرَكَةُ سُكَّانَ الْمَكَانِ وَأَصْلُ ذَلِكَ وَضْعُ الْجَرِيْدَتَيْنِ فِي الْقَبْرِ بِنَاءً عَلَى أَنَّ فَائِدَتَهُمَا أَنَّهُمَا مَا دَامَتَا رَطْبَتَيْنِ تُسَبِّحَانِ فَتَحْصُلُ الْبَرَكَةُ بِتَسْبِيْحِهِمَا لِصَاحِبِ الْقَبْرِ  ... وَإِذَا حَصَلَتِ الْبَرَكَةُ بِتَسْبِيْحِ الْجَمَادَاتِ فَبِالْقُرْآنِ الَّذِي هُوَ أَشْرَفُ الذِّكْرِ مِنَ اْلآدَمِيِّ الَّذِي هُوَ أَشْرَفُ الْحَيَوَانِ أَوْلَى بِحُصُوْلِ الْبَرَكَةِ بِقِرَاءَتِهِ وَلاَ سِيَّمَا إِنْ كَانَ الْقَارِئُ رَجُلاً صَالِحًا وَاللهُ أَعْلَمُ (الإمتاع بالأربعين المتباينة السماع للحافظ ابن حجر 1 / 86)
"Sebab al-Quran adalah dzikir yang paling mulia, dan dzikir mengandung berkah di tempat dibacakannya dzikir tersebut, yang kemudian berkahnya merata kepada para penghuninya (kuburan). Dasar utamanya adalah penanaman dua tangkai pohon oleh Rasulullah Saw di atas kubur, dimana kedua pohon itu akan bertasbih selama masih basah dan tasbihnya terdapat berkah bagi penghuni kubur. Jika benda mati saja ada berkahnya, maka dengan al-Quran yang menjadi dzikir paling utama yang dibaca oleh makhluk yang paling mulia sudah pasti lebih utama, apalagi jika yang membaca adalah orang shaleh" (al-Hafidz Ibnu Hajar, al-Imta' I/86)
Kalaupun ada pernyataan dari Imam Syafi'i terkait tidak sampainya pahala bacaan al-Quran yang dihadiahkan pada orang yang meninggal, maksudnya adalah jika dibaca dan tidak dihadiahkan kepada orang yang meninggal atau tidak dibaca di hadapan mayatnya. Maka jika dibaca lalu diniatkan agar pahalanya diperuntukkan bagi orang yang meninggal atau dihadapan mayat, maka bacaan itu bisa sampai kepadanya (Ibnu Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra II/27 dan al-Dimyathi Syatha dalam I'anat al-Thalibin III/259)
Sedangkan hadis yang terkait menghadiahkan bacaan al-Quran telah dikutip oleh banyak para ulama, bahkan pendiri aliran Wahhabi, Muhammad bin Abdul Wahhab yang banyak diikuti oleh kelompok anti tahlil di Indonesia, juga mengutip riwayat hadis tersebut:
وَأَخْرَجَ أَبُوْ الْقَاسِمِ سَعْدُ بْنُ عَلِيٍّ الزَّنْجَانِيُّ فِي فَوَائِدِهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ ثُمَّ قَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَأَلْهَاكُمْ التَّكَاثُرُ ثُمَّ قَالَ إِنِّي جَعَلْتُ ثَوَابَ مَا قَرَأْتُ مِنْ كَلاَمِكَ ِلأَهْلِ الْمَقَابِرِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَانُوْا شُفَعَاءَ لَهُ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَأَخْرَجَ صَاحِبُ الْخَلاَّلِ بِسَنَدِهِ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ فَقَرَأَ سُوْرَةَ يس خَفَّفَ اللهُ عَنْهُمْ وَكَانَ لَهُ بِعَدَدِ مَنْ فِيْهَا حَسَنَاتٌ (عمدة القاري شرح صحيح البخاري لبدر الدين العيني 4 / 497 وشرح الصدور بشرح حال الموتى والقبور للحافظ جلال الدين السيوطي 1 / 303 وفي احكام تمني الموت لمحمد بن عبد الوهاب - مؤسس الفرقة الوهابية - 75)
"Abu Qasim Saad bin Ali al-Zanjani dalam kitab Fawaidnya meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda: 'Barangsiapa masuk ke kuburan kemudian membaca al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Takatsur, lalu berdoa: Sesungguhnya saya jadikan bacaan saya dari firman-Mu untuk para ahli kubur, baik mukminin dan mukminat, maka mereka akan menjadi pemberi syafaat baginya di sisi Allah'. Al-Khallal juga meriwayatkan sebuah hadis dari Anas bin Malik: 'Barangsiapa masuk ke kuburan, kemudian membaca Yasin,[4] maka Allah akan meringankan kepada mereka pada hari itu dan dia mendapatkan kebaikan-kebaikan sesuai bilangan yang ada di kuburan tersebut" (Badruddin al-Aini dalam kitab Umdat al-Qari Syarah Sahih al-Bukhari IV/497, al-Hafidz al-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur I/303 dan Muhammad bin Abdul Wahhab –Pendiri aliran Wahhabi– dalam Ahkam Tamanni al-Maut 75)
Dan hadis dari Ali secara marfu':
وَحَدِيْثُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَرْفُوْعًا مَنْ مَرَّ عَلَى الْمَقَابِرِ وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَحَدَ عَشَرَ مَرَّةً وَوَهَبَ اَجْرَهُ لِلاَمْوَاتِ اُعْطِىَ مِنَ اْلاَجْرِ بِعَدَدِ اْلأَمْوَاتِ رَوَاهُ أَبُوْ مُحَمَّدٍ السَّمَرْقَنْدِي (التفسير المظهرى 1 / 3733 وشرح الصدور بشرح حال الموتى والقبور للحافظ جلال الدين السيوطي 1 / 303)
"Barangsiapa melewati kuburan kemudian membaca surat al-Ikhlas 11 kali dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang telah meninggal, maka ia mendapatkan pahala sesuai bilangan orang yang meninggal. Diriwayatkan oleh Abu Muhammad al-Samarqandi"[5] (Tafsir al-Mudzhiri I/3733 dan al-Hafidz al-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur I/303)
Hal ini diperkuat oleh madzhab Imam Ahmad:
(وَتُسْتَحَبُّ قِرَاءَةٌ بِمَقْبَرَةٍ) قَالَ الْمَرُّوْذِيُّ سَمِعْتُ أَحْمَدَ يَقُوْلُ إذَا دَخَلْتُمُ الْمَقَابِرَ فَاقْرَءُوْا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَاجْعَلُوْا ثَوَابَ ذَلِكَ إلَى أَهْلِ الْمَقَابِرِ فَإِنَّهُ يَصِلُ إلَيْهِمْ وَكَانَتْ هَكَذَا عَادَةُ اْلأَنْصَارِ فِي التَّرَدُّدِ إلَى مَوْتَاهُمْ يَقْرَءُوْنَ الْقُرْآنَ (مطالب أولي النهى للرحيباني الحنبلي 5 / 9)
"(Dianjurkan membaca al-Quran di kuburan) Al-Marrudzi berkata: Saya mendengar Imam Ahmad berkata: Jika kalian masuk ke kuburan maka bacalah surat al-Fatihah, al-Falaq, al-Nas dan al-Ikhlash. Jadikan pahalanya untuk ahli kubur, maka akan sampai pada mereka. Seperti inilah tradisi sahabat Anshar dalam berlalu-lalang ke kuburan untuk membaca al-Quran[6]" (Mathalib Uli al-Nuha 5/9)
Ibnu Taimiyah pun, yang menjadi panutan kelompok anti tahlil, juga memperbolehkan sedekah untuk mayat, khataman al-Quran dan mengumpulkan orang lain untuk mendoakannya:
الصَّحِيْحُ أَنَّهُ يَنْتَفِعُ الْمَيِّتُ بِجَمِيْعِ الْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ مِنْ الصَّلاَةِ وَالصَّوْمِ وَالْقِرَاءَةِ كَمَا يَنْتَفِعُ بِالْعِبَادَاتِ الْمَالِيَّةِ مِنْ الصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ وَنَحْوِهِمَا بِاتِّفَاقِ اْلأَئِمَّةِ وَكَمَا لَوْ دَعَا لَهُ وَاسْتَغْفَرَ لَهُ وَالصَّدَقَةُ عَلَى الْمَيِّتِ أَفْضَلُ مِنْ عَمَلِ خَتْمَةٍ وَجَمْعِ النَّاسِ وَلَوْ أَوْصَى الْمَيِّتُ أَنْ يُصْرَفَ مَالٌ فِي هَذِهِ الْخَتْمَةِ وَقَصْدُهُ التَّقَرُّبُ إلَى اللهِ صُرِفَ إلَى مَحَاوِيْجَ يَقْرَءُوْنَ الْقُرْآنَ وَخَتْمَةٌ أَوْ أَكْثَرُ وَهُوَ أَفْضَلُ مِنْ جَمْعِ النَّاسِ (الفتاوى الكبرى لابن تيمية 5 / 363)
"Pendapat yang benar bahwa mayit mendapatkan manfaat dengan semua ibadah fisik, seperti salat, puasa dan bacaan al-Quran, sebagaimana ibadah harta seperti sedekah, memerdekakan budak dan sebagainya berdasarkan kesepakatan para Imam, dan sebagaimana ia mendoakannya atau meminta ampunan untuknya. Sedekah untuk mayat lebih utama daripada mengkhatamkan al-Quran dan mengumpulkan orang. Jika mayit berwasiat agar hartanya digunakan untuk khataman dan tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka harta tersebut digunakan untuk kebutuhan membaca al-Quran dengan sekali khatam atau lebih dari satu kali. Dan mengkhatamkan al-Quran ini lebuh utama daripada mengumpulkan orang lain" (al-Fatawa al-Kubra V/363)
Begitu pula Ibnu al-Qayyim, murid Ibnu Taimiyah, berkata:
وَبِالْجُمْلَةِ فَأَفْضَلُ مَا يُهْدَى إِلَى الْمَيِّتِ الْعِتْقُ وَالصَّدَقَةُ وَاْلاِسْتِغْفَارُ لَهُ وَالدُّعَاءُ لَهُ وَالْحَجُّ عَنْهُ وَأَمَّا قِرَاءَةُ اْلقُرْآنِ وَإِهْدَاؤُهَا لَهُ تَطَوُّعًا بِغَيْرِ أُجْرَةٍ فَهَذَا يَصِلُ إِلَيْهِ كَمَا يَصِلُ ثَوَابُ الصَّوْمِ وَالْحَجِّ (الروح لابن القيم 1 / 142)
"Secara global, sesuatu yang paling utama dihadiahkan kepada mayyit adalah sedeqah, istighfar, berdoa untuk orang yang meninggal dan berhaji atas nama dia. Adapun membaca Al Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada si mayyit dengan suka rela tanpa imbalan, maka akan sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji juga sampai kepadanya" (al-Ruh I/142)
Terkait dengan masalah menghadiahkan bacaan dzikir kepada ahli kubur, maka kesemuanya bisa sampai kepada mereka seperti yang diamalkan oleh warga NU dalam Tahlilan. Sebagaimana menurut al-Hafidz Ibnu Hajar: 
وَالذِّكْرُ يَحْتَمِلُ بِهِ بَرَكَةٌ لِلْمَكَانِ الَّذِي يَقَعُ فِيْهِ وَتَعُمُّ تِلْكَ الْبَرَكَةُ سُكَّانَ الْمَكَانِ (الإمتاع بالأربعين المتباينة السماع للحافظ ابن حجر 1 / 86)
"Dan dzikir mengandung berkah di tempat dibacakannya dzikir tersebut, yang kemudian berkahnya merata kepada para penghuninya (kuburan)" (al-Hafidz Ibnu Hajar, al-Imta' I/86)
Amaliyah warga NU ini diperkuat oleh fatwa Ibnu Taimiyah mengenai kirim pahala tahlil dan dzikir lainnya:
(وَسُئِلَ) عَمَّنْ هَلَّلَ سَبْعِيْنَ أَلْفَ مَرَّةٍ وَأَهْدَاهُ لِلْمَيِّتِ يَكُوْنُ بَرَاءَةً لِلْمَيِّتِ مِنْ النَّارِ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ أَمْ لاَ ؟ وَإِذَا هَلَّلَ اْلإِنْسَانُ وَأَهْدَاهُ إلَى الْمَيِّتِ يَصِلُ إلَيْهِ ثَوَابُهُ أَمْ لاَ ؟ (فَأَجَابَ) إذَا هَلَّلَ اْلإِنْسَانُ هَكَذَا سَبْعُوْنَ أَلْفًا أَوْ أَقَلَّ أَوْ أَكْثَرَ وَأُهْدِيَتْ إلَيْهِ نَفَعَهُ اللهُ بِذَلِكَ وَلَيْسَ هَذَا حَدِيْثًا صَحِيْحًا وَلاَ ضَعِيْفًا وَاللهُ أَعْلَمُ (مجموع الفتاوى لابن تيمية 24 / 165)
"Ibnu Taimiyah ditanya tentang seseorang yang membaca tahlil tujuh puluh ribu kali dan dihadiahkan kepada mayit sebagai pembebas dari api neraka, apakah ini hadis sahih atau bukan? Ibnu Taimiyah menjawab: Jika seseorang membaca tahlil sebanyak tujuh puluh ribu, atau kurang, atau lebih banyak, lalu dihadiahkan kepada mayit, maka Allah akan menyampaikannya. Hal ini bukan hadis sahih atau dlaif" (Majmu' al-Fatawa XXIV /165)
(وَسُئِلَ) عَنْ قِرَاءَةِ أَهْلِ الْمَيِّتِ تَصِلُ إلَيْهِ ؟ وَالتَّسْبِيْحُ وَالتَّحْمِيْدُ وَالتَّهْلِيْلُ وَالتَّكْبِيْرُ إذَا أَهْدَاهُ إلَى الْمَيِّتِ يَصِلُ إلَيْهِ ثَوَابُهَا أَمْ لاَ ؟ (فَأَجَابَ) يَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ قِرَاءَةُ أَهْلِهِ وَتَسْبِيْحُهُمْ وَتَكْبِيْرُهُمْ وَسَائِرُ ذِكْرِهِمْ ِللهِ تَعَالَى إذَا أَهْدَوْهُ إلَى الْمَيِّتِ وَصَلَ إلَيْهِ وَاللهُ أَعْلَمُ (مجموع الفتاوى لابن تيمية 24 / 165)
"Ibnu Taimiyah ditanya mengenai bacaan keluarga mayit yang terdiri dari tasbih, tahmid, tahlil dan takbir, apabila mereka menghadiahkan kepada mayit apakah pahalanya bisa sampai atau tidak?[7] Ibnu Taimiyah menjawab: Bacaan kelurga mayit bisa sampai, baik tasbihnya, takbirnya dan semua dzikirnya, karena Allah Ta'ala. Apabila mereka menghadiahkan kepada mayit, maka akan sampai kepadanya" (Majmu' al-Fatawa XXIV /165)
Begitu pula fatwa mengirimkan pahala bacaan al-Quran:
وَرُوِيَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ السَّلَفِ عِنْدَ كُلِّ خَتْمَةٍ دَعْوَةٌ مُجَابَةٌ فَإِذَا دَعَا الرَّجُلُ عَقِيْبَ الْخَتْمِ لِنَفْسِهِ وَلِوَالِدَيْهِ وَلِمَشَايِخِهِ وَغَيْرِهِمْ مِنْ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَانَ هَذَا مِنْ الْجِنْسِ الْمَشْرُوْعِ وَكَذَلِكَ دُعَاؤُهُ لَهُمْ فِي قِيَامِ اللَّيْلِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ مَوَاطِنِ اْلإِجَابَةِ وَقَدْ صَحَّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَمَرَ بِالصَّدَقَةِ عَلَى الْمَيِّتِ وَأَمَرَ أَنْ يُصَامَ عَنْهُ الصَّوْمَ فَالصَّدَقَةُ عَنِ الْمَوْتَى مِنْ اْلأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَكَذَلِكَ مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ فِي الصَّوْمِ عَنْهُمْ وَبِهَذَا وَغَيْرِهِ اِحْتَجَّ مَنْ قَالَ مِنَ الْعُلَمَاءِ إنَّهُ يَجُوْزُ إهْدَاءُ ثَوَابِ الْعِبَادَاتِ الْمَالِيَّةِ وَالْبَدَنِيَّةِ إلَى مَوْتَى الْمُسْلِمِيْنَ كَمَا هُوَ مَذْهَبُ أَحْمَد وَأَبِي حَنِيْفَةَ وَطَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ فَإِذَا أَهْدَى لِمَيِّتٍ ثَوَابَ صِيَامٍ أَوْ صَلاَةٍ أَوْ قِرَاءَةٍ جَازَ ذَلِكَ (مجموع الفتاوى لابن تيمية 24 / 322)
"Dan diriwayatkan daru ulama salaf bahwa 'Setiap khatam al-Quran terdapat doa yang terkabul'[8]. Jika seseorang berdoa setelah khatam al-Quran, baik untuk dirinya sendiri, kedua orang tuanya, para gurunya, dan yang lain dari kalangan mukminin dan mukminat, maka doa ini tergolong bagian dari doa yang disyariatkan. Begitu pula doa bagi mereka saat tengah malam, dan tempat-tempat istijabah lainnya. Dan sungguh telah sahih dari Nabi Muhammad Saw bahwa beliau memerintahkan sedekah untuk mayit dan puasa untuknya. Bersedekah atas nama orang yang telah mati adalah bagian dari amal shaleh, begitu pula puasa. Dengan dalil ini, para ulama berhujjah bahwa boleh menghadiahkan pahala ibadah yang bersifat harta atau fisik kepada umat Islam yang telah wafat, sebagaimana pendapat Ahmad, Abu Hanifah, segolongan dari Madzhab Malik dan Syafi'i. maka jika menghadiahkan pahala puasa, salat dan bacaan al-Quran kepada orang yang telah wafat, maka hukumnya boleh" (Majmu' al-Fatawa XXIV/322)
Bahkan menurut Imam Ahmad hal diatas adalah konsensus para ulama:
قَالَ أَحْمَدُ الْمَيِّتُ يَصِلُ إلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ الْخَيْرِ لِلنُّصُوْصِ الْوَارِدَةِ فِيْهِ وَلأَنَّ الْمُسْلِمِيْنَ يَجْتَمِعُوْنَ فِي كُلِّ مِصْرٍ وَيَقْرَءُوْنَ وَيَهْدُوْنَ لِمَوْتَاهُمْ مِنْ غَيْرِ نَكِيْرٍ فَكَانَ إجْمَاعًا (كشاف القناع عن متن الإقناع للبهوتي الحنبلي 4 / 431 ومطالب اولي النهى للرحيباني الحنبلي 5 / 10)
"Imam Ahmad berkata: Setiap kebaikan bisa sampai kepada mayit berdasarkan dalil al-Quran dan hadis, dan dikarenakan umat Islam berkumpul di setiap kota, mereka membaca al-Quran dan menghadiahkan untuk orang yang telah meninggal diantara mereka, tanpa ada pengingkaran. Maka hal ini adalah ijma' ulama (Kisyaf al-Qunna' IV/ 431 dan Mathalib Uli al-Nuha V/10)
Kesimpulannya, bacaan dzikir yang dihadiahkan kepada ahli kubur dapat sampai kepada mereka, sebagaimana dikatakan oleh al-Thabari:
وَقَالَ الْمُحِبُّ الطَّبَرِي يَصِلُ لِلْمَيِّتِ كُلُّ عِبَادَةٍ تُفْعَلُ وَاجِبَةٍ أَوْ مَنْدُوْبَةٍ وَفِي شَرْحِ الْمُخْتَارِ لِمُؤَلِّفِهِ مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ أَنَّ لِلاِنْسَانِ أَنْ يَجْعَلَ ثَوَابَ عَمَلِهِ وَصَلاَتِهِ لِغَيْرِهِ وَيَصِلُهُ اهـ (حاشية إعانة الطالبين 1 / 33)
"Semua ibadah yang dilakukan, baik ibadah wajib atau sunah, dapat sampai kepada orang yang telah wafat. Dan disebutkan dalam kitab Syarah al-Mukhtar bahwa dalam ajaran Aswaja hendaknya seseorang menjadikan pahala amalnya dan salatnya dihadiahkan kepada orang lain (yang telah wafat), dan hal itu akan sampai kepadanya" (I'anat al-Thalibin I/33)
Kelompok anti tahlil yang kerap berdalil dengan Surat al-Najm: 38, untuk menolak menghadiahkan pahala kepada ahli kubur, dibantah dengan sangat keras oleh pimpinan mereka sendiri, Ibnu Taimiyah. Ia berkata:
وَمَنِ احْتَجَّ عَلَى ذَلِكَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى فَحُجَّتُهُ دَاحِضَةٌ (اَيْ بَاطِلَةٌ) فَإِنَّهُ قَدْ ثَبَتَ بِالنَّصِّ وَاْلإِجْمَاعِ أَنَّهُ يَنْتَفِعُ بِالدُّعَاءِ لَهُ وَاْلاِسْتِغْفَارِ وَالصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ وَغَيْرِ ذَلِكَ (المسائل والأجوبة لابن تيمية 1 / 132)
"Orang yang berhujjah tidak sampainya pahala kepada orang yang telah wafat dengan firman Allah "Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya" (al-Najm 39), maka hujjahnya salah fatal. Sebab telah dijelaskan dalam nash al-Quran-Hadis dan Ijma Ulama bahwa mayit menerima manfaat dengan doa kepadanya, memintakan ampunan, sedekah, memerdekakan budak dan sebagainya" (al-Masail wa al-Ajwibah I/132)


[1]  Ketua LBM NU Kota Surabaya
[2] Al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir No 15833 meriwayatkan wasiat al-'Ala' kepada anak-anaknya agar dibacakan awal-akhir surat al-Baqarah di kuburnya karena ia mendengarnya dari Rasulullah Saw. Al-Haitsami menilai para perawinya terpercaya (Majma' al-Zawaid III/66)
[3] Qoul Qadim adalah pendapat Imam Syafi'i ketika di Iraq. Para perawinya adalah al-Karabisi, al-Za'farani, Abu Tsaur dan Ahmad bin Hanbal. Sedangkan Qaul Jadid adalah pendapat 'refisi' Imam Syafi'i setelah menetap di Mesir 90 H. Para perawinya adalah al-Muzani, al-Buwaithi, Rabi' al-Jaizi dan Rabi' al-Muradi, perawi kitab al-Umm ( Hasyiah al-Qulyubi I/14)
[4] Membaca Yasin di kuburan kendatipun hadis-hadisnya dlaif, tetapi kesemuanya saling menguatkan (al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi dalam al-Laali al-Mashnu'ah II/365 dan Ibnu 'Arraq dalam Tanzih al-Syari'ah II/373)
[5] Riwayat semacam ini banyak dikutip oleh kalangan Syafi'iyah Muta'akhirin, seperti dalam al-Jamal VII/224 dan al-Qulyubi I/412
[6] Juga dikutip oleh Ibnu al-Qayyim, murid Ibnu Taimiyah, dalam kitab al-Ruh 11
[7] Jika melihat dari isi pertanyaan, maka dahulu sudah ada rangkaian dzikir yang susunannya terdiri dari gabungan beberapa dzikir, seperti tasbih, tahmid, tahlil dan sebagainya untuk dihadiahkan pada ahli kubur. Hal ini sama dengan susunan dzikir dalam tahlil yang biasa dilakukan oleh warga NU.
[8]  Riwayat ini adalah sebuah hadis, HR al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman No 1919 dan No 2058.

6 komentar:

  1. mohon penjelasannya haruskah bacaan dan susunannya tahlilan seperti pada umumnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bacaan dan susunan tahlil.. dibuat oleh para Ulama, adapun secara garis besar biasanya sama, diawali dengan Tasbih, tawassul, surah Yaasin, surah pendek lainnya, istighfar, sholawat, tahlil dan do'a.. adapaun perbedaan hitungan dan panjang pendek bacaan tidak ada masalah... wallahu'alam

      Hapus
  2. Nabi memiliki beberapa anak, yang anak laki2 semua

    meninggal sewaktu masih kecil. Anak-anak perempuan

    beliau ada 4 termasuk Fatimah, hidup sampai

    dewasa.
    Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg

    meninggal tidak satupun di TAHLIL i, kl di do'akan

    sudah pasti, karena mendo'akan orang tua,

    mendo'akan anak, mendo'akan sesama muslim amalan

    yg sangat mulia.

    Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN

    untuk NABI,
    padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
    UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
    UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
    ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
    Apakah para sahabat BODOH....,
    Apakah para sahabat menganggap NABI hewan....

    (menurut kalimat sdr sebelah)
    Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan...
    Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan....
    Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik,

    yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

    Semua Sahabat Nabi SAW yg jumlahnya RIBUAN,

    Tabi'in dan Tabiut Tabi'in yg jumlahnya jauh lebih

    banyak, ketika meninggal, tdk ada 1 pun yg

    meninggal kemudian di TAHLIL kan.

    cara mengurus jenazah sdh jelas caranya dalam

    ISLAM, seperti yg di ajarkan dalam buku2 pelajaran

    wajib dr SD - Perguruan tinggi. Termasuk juga tata

    cara mendo'akan Orang tua yg meninggal dan tata

    cara mendo'akan orang2 yg sdh meninggal dr kaum

    muslimin.

    Saudaraku semua..., sesama MUSLIM...
    saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk

    pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan

    mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll.

    Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka

    berkata:" sak niki koq mboten nate ngrawuhi

    TAHLILAN Gus.."
    sy jawab dengan baik:"Kanjeng Nabi soho putro

    putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

    dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2,

    lan sakben wedal sak saget e...? Jenengan Tahlilan

    monggo..., sing penting ikhlas.., pun ngarep2

    daharan e..."
    mereka menjawab: "nggih Gus...".

    sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya,

    sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
    Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
    sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan

    kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk

    wajib...??
    dia jawab gk berani menyampaikan..., takut timbul

    masalah...
    setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan

    tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja

    disampaikan hukum asli TAHLIL an..., sehingga

    nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan

    ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa

    dll.

    Untuk para Kyai..., sy yg miskin ilmu ini,

    berharap besar pada Jenengan semua...., TAHLIL an

    silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat

    santri harus dinomor satukan..
    sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya.

    tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama'ah

    nya menyedihkan.
    shaf nya gk rapat, antar jama'ah berjauhan, dan

    Imam rata2 gk peduli.
    selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya,

    Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang

    shaf...

    Untuk saudara2 salafi..., jangan terlalu keras

    dalam berpendapat...
    dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang

    lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil

    khusus sholat jama'ah...
    tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita

    do'akan saja yg baik...
    siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada

    sunnah shahihah dengan lantaran Do'a kita....

    demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk

    berkenan...
    semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke

    jaman kejayaan Islam di jaman Nabi..., jaman

    Sahabat.., Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in
    Amin ya Robbal Alamin

    BalasHapus
    Balasan
    1. ..maaf rupanya anda masih belum paham.. tentang hukum2 yang dipakai oleh islam... apa2 yang tidak dilakukan oleh sahabat dan Nabi sendiri, tidak bisa langsung dihukumi Haram.. atau menentang sunnah.. sebab, ketika turun hadist.. bahwa Ulama itu penerus para Nabi, maka hukum Islam berkembang .. dari Al Qur'an dan Hadist, disertai Ijma' Ulama... artinya ketika Sebuah kebaikan telah disepakati oleh Ulama yang diakui sebagian besar umat, maka dapat dijadikan hujjah.. dan ini tidak bertentangan dengan Al Quran dan Hadist.. sebab pada dasarnya TAHLILlan sendiri adalah bacaan Dzikir yang memang diperintahkan dalam Al Quran.. masalah waktu, tempat dan hitungan tidak pernah ada larangan dari hukum aslinya.. Wallahu'alam...

      Hapus
    2. ..adapun kalo anda bertanya tentang Hukum dasar TAHLILan.. jika dilihat dari susunan dan bacaannya jelas sekali bahwa itu DZIKIR yang hukumnya adalah SUNNAH atau tuntunan RASULULLAH... adapaun mengenai niat dari tahlil, itu masuk dalam ranah DO'A... artinya tidak ada masalah ketika setiap Do'a diawali dengan puijian kepada ALLAH.. itu bahkan lebih bagus...

      Hapus
  3. fatwa muktamar NU ke-1 di Surabaya 1926
    Apakah benar bahwa fatwa Muktamar NU Ke-1 menyatakan bahwa "Selamatan setelah kematian seseorang adalah bid'ah?Mohon bantuannya

    BalasHapus