Selasa, 15 April 2014

Mengapa Ulama Indonesia Tidak Menerapkan Sistem Negara Islam? (Bagian I)




Mengapa Ulama Indonesia Tidak Menerapkan Sistem Negara Islam? (Bagian I)

Mungkin ada diantara kita yang pernah terlintas dalam pikiran, yaitu: “Mengapa para ulama khususnya di Nahdlatul Ulama tidak menerapkan hukum Islam di Indonesia setelah kemerdekaan padahal kondisinya saat itu sangat memungkinkan? Mengapa pula penerus perjuangan NU hingga saat ini tetap mempertahankan negara ini dan tidak merubahnya menjadi sistem Islam seperti khilafah?”
Terlebih saat ini begitu marak kelompok yang memperjuangkan sistem negara Islam, baik yang berbentuk khilafah, piagam Jakarta, Perda Syariah dan lain sebagainya. Hal yang semacam ini kerap memunculkan propaganda yang menyudutkan NU, misalnya “NU yang murni adalah NU yang memperjuangkan Khilafah”, hingga mengakibatkan anak-anak muda NU, akademisi, pekerja profesional dan masyarakat awam sekalipun yang demam istilah “Syariah”, membuat mereka berpindah haluan secara ‘politik’ dan menjadi sipatisan mereka, meski secara amaliyah mereka tetap mengamalkan amaliyah NU.
NU bukan paranoid terhadap sistem Negara Islam, NU bukan berarti anti terhadap yang berbau “Syariah Islam”. Sebab bagaimana mungkin NU alergi kepada Islam padahal ruh Nahdlatul Ulama adalah Islam itu sendiri? NU menerima Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 adalah sebagai strategi untuk menjalankan ajaran Islam secara merdeka bagi umat Islam di Indonesia tanpa ada disintegrasi bangsa, tanpa perang, tanpa kekerasan dan lainnya sebagaimana Rasulullah Saw menerima perjanjian damai Hudaibiyah yang seolah merugikan Islam, namun kenyataannya disanalah titik balik menyebarnya Islam tanpa perang dan senjata.

Rabu, 02 April 2014


(Kyai Mas Alwi, songkok hitam)


KH Mas Alwi Abdul Aziz[1]
Penyelidik Isu “Pembaharuan Islam” Dan Pencipta Nama “Nahdlatul Ulama”

Kyai Mas Alwi adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama bersama Kyai Abdul Wahhab Hasbullah dan Kyai Ridlwan Abdullah dan lainnya, yang ketiganya bergerak secara aktif sejak NU belum didirikan. Beliaulah yang pertama mengusulkan nama Nahdlatul Ulama dalam versi riwayat keluarga Kyai Ridlwan Abdullah. Namun Kyai Mas Alwi hampir tak disebut dalam beberapa sejarah NU, hal ini dikarenakan beliau tidak memiliki keturunan dan dikeluarkan dari silsilah keluarga, sebagaimana yang akan disampaikan nanti.

Minggu, 01 September 2013

Adzan Saat Pemakaman



Adzan Saat Pemakaman

Saat menghadiri haul KH Ridlwan Abdullah (pencipta lambang NU, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama) ada seorang Pengurus NU yang menyampaikan sambutan. Di tengah-tengah sambutannya beliau berkata: “Sampai saat ini belum saya temukan dalil tentang adzan saat pemakaman, baik di kitab-kitab hadis maupun lainnya”. Sayangnya beliau tidak menggarisbawahi misalnya: “Silahkan dikaji dalam Bahtsul Masail”, atau kalimat rekomendasi lainnya, supaya tidak membuat keraguan di lingkungan Nahdliyin yang telah mengamalkan hal tersebut.

Istidlal Adzan di Kuburan
Dalam pandangan ulama Syafiiyah, adzan dan iqamah tidak hanya diperuntukkan sebagai penanda masuknya salat, baik berdasarkan hadis maupun mengimplementasikan makna hadis. Oleh karenanya ada sebagian ulama yang memperbolehkan adzan saat pemakaman, dan sebagian yang lain tidak menganjurkannya. Dalam hal ini ahli fikih Ibnu Hajar al-Haitami berkata:

Posisi Imam Saat Salat Janazah



Posisi Imam Saat Salat Janazah

Bagaimana posisi yang benar saat imam melakukan salat janazah laki-laki maupun wanita, adakah perbedaan posisi imam? Jamaah Masjid Istikmal, Simomulyo Sby.

Jawaban:
Memang benar, ketika imam salat janazah posisinya tidak sama antara janazah laki-laki dan perempuan. Hal ini berdasarkan beberapa riwayat berikut:

عَنْ أَبِى غَالِبٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَلَى جَنَازَةِ رَجُلٍ فَقَامَ حِيَالَ رَأْسِهِ ثُمَّ جَاءُوا بِجَنَازَةِ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ فَقَالُوا يَا أَبَا حَمْزَةَ صَلِّ عَلَيْهَا. فَقَامَ حِيَالَ وَسَطِ السَّرِيرِ. فَقَالَ لَهُ الْعَلاَءُ بْنُ زِيَادٍ هَكَذَا رَأَيْتَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَامَ عَلَى الْجَنَازَةِ مُقَامَكَ مِنْهَا وَمِنَ الرَّجُلِ مُقَامَكَ مِنْهُ قَالَ نَعَمْ. فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ احْفَظُوا. (سنن الترمذي - ج 3 / ص 352)

Kamis, 18 Juli 2013

Berdoa di Makam Penyembah Qubur?



Berdoa Di Makam Ulama
Moh. Ma’ruf Khozin[1]

Bagi sebagian kalangan yang mengaku bermanhaj ahli hadis berdoa di makam Nabi, wali, ulama dan orang sholeh adalah bid’ah yang terlarang. Namun pengakuan ini justru bertolak belakang dengan realita pendapat dan amaliyah ahli hadis yang justru sering melakukan doa saat ziarah. Jika mereka secara lantang menuduh Nahdliyin sebagai ‘Quburiyun’ dan bahkan tuduhan ‘Ubbadul Qubur (penyembah kubur), maka mereka sebenarnya menyematkan tuduhan itu kepada para ahli hadis!! Ini beberapa kecil fakta yang diamalkan para ahli hadis:
قُلْتُ: وَالدُّعَاءُ مُسْتَجَابٌ عِنْدَ قُبُوْرِ اْلاَنْبِيَاءِ وَاْلاَوْلِيَاءِ وَفِي سَائِرِ الْبِقَاعِ، لَكِنْ سَبَبُ اْلاِجَابَةِ حُضُوْرُ الدَّاعِي وَخُشُوْعُهُ وَابْتِهَالُهُ، وَبِلاَ رَيْبٍ فِي اْلبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ وَفِي الْمَسْجِدِ وَفِي السَّحَرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ يَتَحَصَّلُ ذَلِكَ لِلدَّاعِي كَثِيْرًا وَكُلُّ مُضْطَرٍّ فَدُعَاؤُهُ مُجَابٌ (سير أعلام النبلاء للذهبي - ج 17 / ص 77)
“Saya (adz-Dzahabi) berkata: Doa akan dikabulkan di dekat makam para Nabi dan wali, juga di beberapa tempat. Namun penyebab terkabulnya doa adalah konsentrasi orang yang berdoa dan kekhusyukannya. Dan tidak diragukan lagi di tempat-tempat yang diberkati, di masjid, saat sahur dan sebagainya. Doa akan lebih banyak didapat oleh pelakunya. Dan setiap orang yang sangat membutuhkan doanya akan terkabul” (al-Hafidz adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ 17/77)
-          Makam Ali bin Musa

Salat Tasbih



Salat Tasbih
ketika salat malam bersama, misalnya mencari malam Laitaul Qadar di bulan Ramadlan, imam masjid mengajak salat Tasbih berjamaah. Apakan salat Tasbih memiliki dasar? Jamaah Mushalla Da'watul Anshor, Sby

Jawaban:
Benar, bahwa salat Tasbih yang sering dilakukan sebagai salat sunah di malam hari berdasarkan sebuah hadis, dimana Rasulullah mengajarkan salat tersebut kepada pamannya Abbas bin Abdul Muthallib:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرِ بْنِ الْحَكَمِ النَّيْسَابُورِىُّ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ أَبَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ « يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلاَ أُعْطِيكَ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ